Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

Opini News: SBY NOT FOR SALE, MOELDOKO JANGAN DITEKAN




Oleh:
Rudi S Kamri
27Februari 2021

Jakarta,Intelmediabali.id 
Bagaimana tanggapan Anda dengan drama balas PANTUN antara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Moeldoko?

Dua Jenderal purnawirawan ini seolah melupakan etika dan kepantasan sebagai perwira tinggi TNI yang seharusnya tetap menjujung tinggi Sapta Marga dan Sumpah Prajurit dalam perilaku dan pola pikir sehari-harinya. Meskipun mereka sudah purna tugas. Mereka saat ini sudah bermetamorfosis menjadi seorang politisi yang bebas berujar di ruang publik tanpa memperdulikan empati satu sama lain juga empati rakyat yang sedang menderita terdampak pandemi Covid-19 dan pandemi ekonomi.

SBY seperti biasa tetap melakoni perannya sebagai "Jenderal Curhat" yang piawai merangkai kata-kata. Dengan irama melow dia sendu mengubal-ubal kegundahan hatinya yang terpaksa turun gunung karena Raja muda yang digadang-gadang bisa menyelamatkan kerajaan politiknya ternyata gagal menghalau badai yang datang menyambang. Raja tua ini berani menunjuk nama dengan terang benderang orang yang dianggap menjadi biang keladi ontran-ontran dalam kerajaannya.

Sebaliknya Moeldoko seperti biasa tetaplah Moeldoko yang tidak terlalu pandai merangkai kata-kata untuk membangun narasi publiknya. Kalimatnya ngambang, normatif dan tidak berani tegas membantah. Dia menebar ancaman secara sumir tapi tetap berpotensi menimbulkan multi interprestasi.

Saya tidak tahu kapan drama berbalas pantun akan berakhir dan akan bermuara kemana. Yang jelas masing-masing bala bantuan keduanya sudah mulai bekerja berperang di ruang publik. Masing- masing dengan argumentasinya seolah paling benar. Tapi saya melihat para pendengung ini tetap saja semakin mengotori ruang publik dengan pernyataan-pernyataan yang semakin membingungkan.

Drama panjang Partai Demokrat (PD) yang terjadi saat ini sebetulnya menunjukkan dengan jelas kegagalan SBY dalam mengelola kerajaan politiknya atau "perusahaan keluarga" yang diwujudkan dalam bentuk partai. Penunjukkan Raja muda AHY yang masih mentah kapasitas politiknya dan masih minim pengalaman terbukti gagal menegasikan eksistensi PD di kancah perpolitikan nasional. AHY yang dibantu pasukan kost pendatang baru dalam partai hanya sibuk memoles beranda partai dengan pencitraan ala Bapaknya.

Tapi ada dua hal yang AHY lupa. Pertama, dia bukan pensiunan Jenderal dan mantan Presiden yang masih punya sisa wibawa yang disegani para penghuni kerajaan. AHY hanya dianggap figur ketiban berkah mewarisi tahta kepartaian tanpa rekam jejak yang memadai. Kedua, AHY yang notabene sama sekali dianggap tidak berkeringat membesarkan partai, terlalu sibuk memoles beranda, tapi lupa menata ruang keluarga partai yang dihuni para orang tua yang turut berjibaku membangun fondasi partai. Fenomena SBY, AHY dan PD tak ubahnya seperti suksesi kerajaan yang gagal total. Sehingga diperlukan Raja Tua untuk turun gunung dan berteriak "partai ini NOT FOR SALE".

Di sisi lain Moeldoko yang notabene bukan kader partai seolah memberi angin dan tergoda tawaran calo politik yang berasal dari internal partai yang tidak puas dengan kepemimpinan Raja Muda AHY. "Kegenitan" Moeldoko yang memberi angin kepada kelompok pemberontak ini secara tidak langsung merugikan Presiden Jokowi. Istana yang sejatinya tidak tahu apa-apa jadi ikut terimbas tuduhan liar para petualang politik meskipun akhirnya tidak terbukti.

Pada akhirnya saya bisa mengerti mengapa Moeldoko seolah gagal menangkis tuduhan yang menerpanya. Karena ada rekam jejak dan saksi yang tak terbantahkan bahwa dia pernah membuka pintu hati untuk mendengar rencana tawaran pengambil-alihan itu. Meskipun belum ada bukti autentik keminatannya secara serius terhadap tawaran itu. Tapi tetap saja saya menyayangkan langkah Moeldoko yang gegabah bermain api.

Sebenarnya tidak ada yang menekan Moeldoko. Moeldoko hanya perlu membangun counter-narasi yang jelas dan tegas apakah tuduhan SBY itu benar atau fitnah semata. Keduanya ada konsekuensi politik dan hukum yang mengikutinya. Moeldoko hanya perlu mengumpulkan keberanian untuk menyatakan sikapnya. Pernyataan yang multi tafsir hanya akan menjadi amunisi untuk digoreng sampai krispi oleh para lawan politiknya. Dan ujungnya akan merugikan Presiden Jokowi.

Sebetulnya apa yang dipersengketakan kedua Jenderal tua ini? Kereta kencana atau pepesan kosong? Saya tidak tahu dan saya tidak peduli. Yang jelas balas pantun keduanya bukan contoh pendidikan politik yang baik bagi rakyat. Hanya sekedar mengotori ruang publik.( RED)

Posting Komentar

0 Komentar