Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

Opini : PDI-P Pada Tahun 2024, adalah Persaingan SOEKARNO IDEOLOGIS Dan SOEKARNO BIOLOGIS










Oleh Dahono Prasetyo
Senin 22 Maret 2021

Buleleng,Intelmediabali.id
Pemilu 2024 masih 3 tahun lagi, PDI-P sebagai partai besar pemilik suara terbanyak menjadi kunci penentu pertarungan politik 5 tahunan. Secara tersirat dari internal Partai sendiri muncul wacana mengusung Puan Maharani maju dalam kontestasi Pilpres. Itu normative sebagai anak biologis Ketua Umum PDI-P Megawati, keinginan menduduki jabatan tertinggi sudah dilalui dengan benar.

Puan yang menjadi Ketua DPR-RI dari background Kader Partai itu sebuah catatan tersendiri. Namun utamanya justru pada kemampuannya menyatukan mayoritas Partai di DPR untuk mendukung Pemerintahan, itu juga sebuah prestasi. Dibanding ketua ketua DPR sebelumnya, harus diakui Puan punya kekuatan lobby lintas partai yang tergolong rapi atau dengan kata lain win win solution.

Bandingkan dengan masa kepemimpinan Agung Laksono, Marzuki Alie, Setya Novanto , Fadli Zon, Bambang Soesatyo yang selalu melahirkan kubu oposisi.

Syarat utama menjadi orang nomer satu sudah setengahnya dimiliki Puan. Dukungan internal partai, jaringan antar partai dan salah satu trah Soekarno yang menjadi “roh” di tubuh PDI-P. Puan yang sudah selesai dengan dukungan dim tingkat elite, tinggal selangkah lagi berupa dukungan basis massa akar rumput yang itu menjadi tugas utama mesin partai dan para “marketingnya”.

Nama Puan Maharani, Prananda, Puti Guntur adalah gerbong Soekarno Biologis. Di sisi lain PDI-P juga memiliki sosok popular dengan definisi Soekarno Ideologis. Ada nama Ganjar Pranowo, Tjahyo Kumolo, Hasto Kristiyanto dan juga Jokowi tentunya. Kedua kubu yang berjalan harmonis namun suatu saat harus berbagi kesempatan menjadi orang nomer satu.

Matematika politik mengatakan, Jokowi sudah selesai dengan masa jabatannya dengan menyisakan dukungan loyalis di akar rumput. Puan yang kurang dukungan akar rumput, butuh Jokowi agar bersedia mengalihkan suara Jokower kepada Puan. Sebagai kompensasinya, Jokowi menggantikan Megawati sebagai Ketua Umum PDI-P. Ketua Umum Partai berbasis ideologis dan Presiden Indonesia yang Nasionalis pada akhirnya akan me-regenerasi-kan dengan sendirinya. Dan massa pendukung tidak punya alasan untuk berseteru sesama penghuni “kandang banteng” perjuangan.

Skenario ini menjadi win win solution juga demi menjaga keselarasan kolaborasi Ideologis dan Biologis di dalam tubuh PDI-P. Megawati lebih paham persoalan ini, sebagaimana dia dulu “mengiklaskan” Jokowi menjadi Presiden dengan status Petugas Partai.

Megawati yang tetap menjadi “pemilik” biologis PDI-P hingga akhir hayatnya, namun regenerasi mesti bergerak dengan berbagai kompromi. Maka perubahan wajah-wajah baru dalam partai untuk diisi anak-anak muda akan berjalan secara moderat.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana nasib Ganjar Pranowo yang secara popularitas digadang gadang menjadi ”The Next Jokowi”.

Ganjar yang dicintai warga namun sesungguhnya masih rapuh dukungan di tingkat elite. Sebagai petugas partai, Ganjar sudah selesai tugasnya mempertahankan dengan Jawa Tengah sebagai basis dukungan massa PDI-P. Masih banyak waktu untuk berproses mendekatkan diri sekaligus “dicintai” di tingkat elite.

Kalau mau bersabar tahun 2029 akan lahir duet maut Jokowi-Ganjar. Saat dimana Indonesia sudah selesai membersihkan NKRI dari Intoleransi dan politik identitas yang memabukkan.( RED)

Posting Komentar

0 Komentar