Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

Perayaan Nyepi Saka 1943, Bupati Buleleng Harapkan Keseimbangan Dunia



Buleleng,Intelmediabali.id
Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1943 diharapkan mampu menciptakan keseimbangan. Keseimbangan dimaksud adalah antara Bhuana Agung (Makrokosmos) dan Bhuana Alit (Mikrokosmos).

Hal tersebut disampaikan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat ditemui usai menghadiri ritual Tawur Agung Kesanga (Upacara Penyucian) sehari jelang Hari Nyepi di Catus Pata Buleleng, Sabtu (13/3).


Agus Suradnyana menjelaskan betapa pentingnya keseimbangan tersebut. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 ini. Tawur Agung Kesanga dan juga perayaan Nyepi tahun ini diharapkan mampu membantu berkurangnya penyebaran COVID-19. "Atau bisa menurun secara drastis dengan bantuan ritual-ritual sebelum perayaan Hari Raya Nyepi," jelasnya.


Disinggung mengenai Catur Brata Penyepian, ia mengajak seluruh masyarakat Buleleng baik itu, Umat Kristiani, Umat Muslim dan yang lainnya untuk  saling menjaga  toleransi antar umat beragama. Sehingga semua umat dapat menghargai proses Catur Brata Penyepian besok. "Untuk benar-benar dijadikan momentum tercapainya keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos,” ajaknya.

Sementara itu, Kelian (Kepala) Desa Pakraman Buleleng Nyoman Sutrisna mengatakan  rasa terima kasih kepada TNI, Polri, Satgas Gotong Royong Desa Adat Buleleng dan Pecalang. Ini dikarenakan kerja keras seluruh pihak guna menghidari terjadinya penyebaran kasus COVID -19 Di Buleleng. Selain itu juga pihaknya merasa bangga karena  proses upacara Tawur Agung Kesanga sudah melakukan prokes COVID-19. Mulai dari Pemedek atau Tamu yang hadir hingga proses persembahyangan berjalan dengan tertib dan aman. “Saya berbangga sekali bahwa Pemedek atau tamu yang hadir juga cukup terbatas. Dan juga sangat tertib melaksanakan kegiatan tahun ini,” katanya.

Dari pelaksanaan Tawur Kesanga di tengah pendemi COVID-19, tidak ada  sedikit pun yang keluar dalam konteks niskala (ritual/spiritual). Baik itu dimulai dari proses upacaranya hingga nunas tirta (pengambilan air suci). ”Semua proses upacara persembahyangan sama seperti Tawur Agung Kesanga yang sudah-sudah. Tidak sedikit pun ada yang yang keluar dalam konteks niskala,” ungkap Sutrisna.

Untuk pelaksanaan Catur Berata Penyepian khususnya di wilayah Kecamatan Buleleng, Sutrisna mengaku sudah melakukan koordinasi baik itu dengan Satgas Gotong Royong maupun Pecalang yang ada. Koordinasi ini dilakukan guna menerapkan Awig-Awig (Aturan adat) Desa Adat Buleleng No 1 Tahun 2013. ”Sesuai awig-awig Desa Adat No 1 tahun 2013 bahwa pecalang bertugas sebagai perpanjangan tangan daripada Tridatu. Maka konsep kita di masa pandemi ini bisa dilakukan pemantauan maupun edukasi kepada masyarakat supaya betul-betul melaksanakan Catur Brata Penyepian,“ tutupnya. (ama)

Posting Komentar

0 Komentar