Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

INDUK SEMANG RADIKALISME ADA DI MEDSOS KITA



Oleh:Dahono Prasetyo
Kamis 1April 2021

Jogjakarta,Intelmediabali.id
Judul ini sekedar menjadi ungkapan situasi yang terjadi usai tragedi kemanusiaan mampir ke layar media dan gadget kita. Kecepatan informasi datang melebihi daya logika kita. Saat belum selesai memperbincangkan bom gereja, penangkapan teroris mendadak muncul kejadian teror lain. Tentang seorang yang mati konyol di halaman markas Kepolisian dengan label teroris.

Maka berhamburan-lah opini, prediksi bercampur kontroversi spekulasi pada apa yang sedang terjadi. Dan di saat kita meributkan definisi Teroris, maka sesungguhnya kita sudah terteror. Misi selanjutnya para otak radikalisme menjadi lebih mudah ketika perbedaan pemahaman kita berujung saling serang dan perpecahan.

Kita yang sedang berhadapan dengan musuh tak nampak berupa radikalisme. Usai kejadian baru sadar, sebuah upaya perusakan tatanan hidup aman terus dilakukan oleh kelompok tak kasat mata. Menjadi pertanda radikalisme yang selama ini kita lawan, nyata masih ada.

Apakah para pelaku, terduga dan para otak teror merasa melakukan upaya radikal? Bagi mereka barangkali tidak. Mereka yang sedang berjuang di jalan egonya masing-masing, melakukan aksi berbekal akumulasi kekecewaan pada situasi.

"Hanya butuh waktu 4 jam untuk mendoktrin,  merubah seseorang yang sudah memiliki bibit Intoleransi seketika menjadi radikal" demikian kesaksian Ali Imron mantan teroris insyaf.

Intoleransi bibit utamanya rasa kecewa seseorang dalam sengkarut hidupnya. Bertemu dengan seseorang yang sudah lebih dulu menjadi radikal. Kemudian menularkan keyakinannya dengan pendekatan religius.

Semua orang pasti mati, jalan jihad menjadi pilihan bagaimana proses kematian bisa dikenang banyak orang. Itulah hidup sekali yang  berarti, sesudah itu mati.

Persoalan kemudian berkembang liar. Mengutuk pelaku berbiak bersama tuduhan konspirasi : Upaya rezim menghancurkan Islam terjadi lagi, kambing hitam kembali berjatuhan, label ormas pencipta teroris fitnah paling keji, sepasang suami istri diledakkan dari jarak jauh, jaringan radikal peliharaan aparat dijebak, rapatkan persatuan umat operasi senyap intelejen sedang dijalankan.

Bersyukurlah bagi yang tergabung dalam medsos sesama pro pemerintah, namun berbeda dirasakan bagi yang "kebetulan" masuk mengikuti narasi di 2 pihak yang saling berseberangan. Dalam situasi yang sedang memanas, waktu 4 jam mencetak radikalis baru rasanya terlalu lama. Butuh 30 menit membaca narasi provokasi mereka, 30 menit lagi merenung, total hanya 60 menit lahir akan kaum radikal baru hanya bermodal membaca!!

Harus diakui, kita sedang kalah selangkah di belakang dalam hal memprovokasi. Mereka lebih logis menautkan rangkaian kejadian dengan teori konspirasinya. Berikut salah satu narasinya :

......tentang Bom Bunuh Diri, Wasiat Dari Pelaku, Motif dan Jaringan. Itu semua, berasal dari sumber sekunder dan tak dapat diverifikasi oleh sumber primer, karena pelakunya sudah mati. Tentang Bom Bunuh Diri misalnya, benarkah Pelaku Bunuh Diri ? Bukankah ada kemungkinan lain, yakni Bom diledakkan melalui remote control oleh orang lain, sedangkan pelaku tidak menyadarinya ?

Tentang pelaku yang seorang diri masuk ke Markas Kepolisian, bisa saja dia di hipnotis dibekali senjata lalu menyerang sesuai arahan penghipnotis dan dibunuh dengan status teroris

Tentang Surat Wasiat, benarkah itu surat wasiat pelaku ? Bukankah, bisa saja itu tulisan orang lain yang dinisbatkan kepada pelaku ? Surat Wasiat ya keterangan pelaku, bukan sidik jari. kalau sidik jari, jari mayat ditempelkan ke kertas juga meninggalkan jejak  sidik jari?

Tentang jaringan ini dan itu, lebih tidak jelas lagi. apalagi, jika dikaitkan motif ini itu. Semuanya itu, keterangan yang bersumber bukan dari pelaku, karena pelaku mati.

Yang jelas, masyarakat harus mengaktifkan akal sehat untuk mencerna isu ini. Tak boleh menelan mentah-mentah setiap narasi yang diedarkan. Apalagi, jika ujungnya ada arah opini yang ingin mendeskreditkan Islam, umat Islam, ormas, gerakan, tokoh, ulama, atau apapun yang terkait dengan Islam. Selama ini,  modus nya selalu begitu.

Pokoknya, kami umat Islam ogah dijadikan korban sekaligus dituduh pelaku, dalam isu terorisme. Kami juga tak mau, isu Terorisme dijadikan dalih pembenar untuk melakukan sejumlah kezaliman, menambah kezaliman-kezaliman yang sudah bertumpuk-tumpuk membebani hidup kami...

Seorang yang berfaham radikal ketika beraksi bisa di vonis menjadi teroris. Tapi orang di sekitar kita yang berkeliaran memprovokasi, memutar balikkan fakta, apakah tidak termasuk  "teroris narasi". 

Mereka yang sesungguhnya sedang memproduksi bibit radikalis baru. Berbagi tugas  menjadi otak dari kaki tangan yang satu persatu mati atau tertangkap. Lalu kita terperangah saat mengetahui bahwa daftar martir radikalis antri memanjang, berebut ingin mati syahid menjadi "pengantin". 

Menumpas teroris dan radikalis sarat utamanya mesti tegas hingga ke akar. Bukan sebanyak apa yang berhasil ditangkap. Saat induk semang radikalis masih bebas bernarasi tanpa rasa takut artinya aparat dan kita sedang loyo, jika tidak ingin disebut kalah selangkah.( RED)


Posting Komentar

0 Komentar