Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

APAKAH HARE KRISHNA (ISKCON) itu sama dengan HINDU di NUSANTARA?


Oleh : Gede Mahardika &
Komang Priambada
Rabu 19 Mei 2021


Jakarta,Intelmediabali.id 
Kami berdua (Bli Gede Mahardika dan saya sendiri Komang Priambada II) berdiskusi tadi, setelah melihat sebuah surat dari seorang Prof di Utah University bernama Ravi M. Gupta. 

Buat kami, yang anti dengan sikap inferior alias rendah diri dan menganggap bangsa asing lebih superior, surat tersebut tidak ada artinya dan berkualitas sangat rendah. Kalau kita setarakan disini sekelas Pos Kota atau koran Lampu Merah. 

Namun karena menyentuh Bali, kami sepakat memberikan penjelasan sebagai wujud berbagi pengetahuan serta meluruskan pikiran yang salah. Walaupun bahasa Inggris kami sangat bagus untuk berdebat di segala level, kami sepakat tidak menterjemahkan tulisan ini karena kita tidak punya kepentingan apakah tulisan ini sampai atau tidak kepada orang luar. 

Yang utama adalah penjelasan kami, sbb:

Beliau mengatakan bahwa beberapa orang di Bali menjustifikasi Iskcon bukanlah lembaga Hindu yang otentik, semua itu adalah kebohongan besar. 

Karena kasus ini, kita semua membandingkan antara Hare Krishna dan Hindu di Indonesia yang sudah sebagai Agama resmi dan final. 

Dari yang sudah kita ketahui bersama, justru klaim yang menyesatkan bahwa Iskcon bukanlah Hindu datang dari pendiri Iskcon itu sendiri yaitu Srila Prabhupada. 

Dalam surat pernyataan tersebut juga di tegaskan bahwa iskcon termasuk dalam garis perguruan gaudiya waisnawa dengan kitab Bhagawad Gita as it is, Srimad Bhagavatam, serta memakai kitab Caritamrta sebagai kitab utama. 
Nah, dari uraian ini, sangat jelas bahwa rujukan kitab suci yang di pakai Iskcon bukanlah kitab Suci Weda (Srutti) tapi mengacu pada jenis kitab smerti/Dharmasastra atau karya sastra yaitu Caritamrta yang dibuat sendiri oleh Krishnadasa Kaviraja yang adalah  merupakan salah satu murid Sri Caitanya Mahaprabhu. Sebagai murid Caitanya, disinilah mulai seorang Caitanya diangkat seolah-olah dia adalah Awatara Tersembunyi Titisan Sri Krishna yang ke 22. Jadi yang dirujuk dalam karya sastra ini bukanlah Sri Krishna dalam Mahabaratha. 
Sementara hal yang sama juga lakukan oleh Srila Prabupadha dan mengklaim sebagai Awatara Tersembunyi titisan Sri Krishna yang ke 32, dan menekankan penggunaan BG As It Is sebagai yang utama setelah melakukan vandalisme terhadap BG yang asli karya Bagawan Vyasa.  

Sedangkan Hindu di Bali menganut teologi Surya Siwa Siddhanta, menggabungkan sadhana Samkhya, Yoga dan Advaita vedanta yg berdasar atas manuscript lontar 
Mantra/Weda
Aksara
Tattwa
Susila/etika
dan
Acara yang ada di Bali dengan tempat sucinya bernama Pura.

Dari penjelasan ini saja, sangat jelas bahwa antara Iskcon dan Hindu Bali mempunyai teologi serta garis perguruan yang berbeda. 
seharusnya Iskcon berdiri sendiri, mendaftar sebagai agama resmi agar diakui negara. Jangan datang berkamuflase dgn cara menempel bagai benalu, lalu mengkonversi keyakinan Siwa Siddhanta Hindu Bali dgn cara yang licik, menjelekkan Adat dan Tradisi Hindu Nusantara, membilang Tamasik dan mengangkat bahwa Hare Krishna lah yang paling benar, universal dan global. 

Cara-cara mereka, sudah tidak benar dan pada saat diawal mereka sudah pernah sampai Ashram di Bali dibakar yang kemudian hadirlah negara melalui Kejaksaan Agung dengan SK 107/JA,/5/1984 yang melarang penyebaran ajaran HK dimanapun dalam bingkai NKRI.

Demikianlah tanggapan dari kami, yg berkepentingan, silahkan terjemahkan  sendiri.( RED)

Hormat kami,
Gede Mahardika - Warih Mula Keto
Komang Priambada - GKHN

Posting Komentar

0 Komentar