Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

ASHRAM HARE KRISHNA (ISKCON) TERBESAR DI INDONESIA DI TUTUP OLEH KRAMA HINDU BALI.


Denpasar,Intelmediabali.id-
Kelompok Sampradaya Hare Krishna,Sai Baba dan Sampradaya non dresta Bali telah di anggap secara terstruktur, sistematif,massif berupaya menhancurkan budaya Hindu Bali melalui ajaran mereka dari tahun 2001 dan hari ini tanggal 7 Mei 2021 gabungan berbagai elemen masyarakat dan beberapa organisasi masa sosial religius Hindu Bali mendatangi Ashram Sri Jagannath Gaurangga yang terletak di wewidangan desa adat Sidakarya, Denpasar selatan. 

Terpantau di lokasi Kedatangan mereka bertujuan untuk mendukung penuh SKB yang dikeluarkan oleh PHDI dengan MDA dan bersinergi dengan masyarakat Desa Adat setempat untuk mengapresiasi SKB tersebut, bahkan beberapa elemen masyarakat juga turut serta memasang spanduk penolakan, pelarangan, bahkan menutup ashram yang tidak sesuai dengan dresta Bali atau non dresta Bali.

Nampaknya gerakan penutupan ashram kali ini merupakan efek domino setelah penutupan ashram Krishna Balaram di Padang Galak oleh Desa Adat Pekraman Kesiman,yang di pimpin oleh Bendesa Adatnya, Jro Mangku Wisna.

Kemudian disusul dengan penutupan ashram di desa Alas Angker oleh Bendesa Adat Bale Agung Tenaon,  I Ketut Sukrawa, yang disaksikan oleh perwakilan Forum Koordinasi Hindu Bali, Cakrawayu dan perwakilan Forum Taksu Bali, APN selanjutnya disusul dengan Deklarasi Bendesa Adat  se-Jembrana, se-kecamatan Grokgak, dan Klungkung yang di koordinir oleh Forum Taksu Bali dan disusul dengan Deklarasi Bendesa sekecamatan Seririt untuk menerapkan SKB di wewidangan desa pekramannya masing-masing.

"Dengan semangat puputan krama Hindu Bali, nampaknya Bendesa-bendesa adat yang lainya akan menyusul melakukan deklarasi penolakan dan pelarangan bahkan menutup seluruh ashram-ashram non dresta Bali sesuai dengan keputusan sabha desa dan sabha kerta desa adat masing-masing di seluruh wilayah Bali" Ungkap Arya Putra Sekjen Forum komunikasi Hindu 

Nampaknya, partisipasi Organisasi massa sosial religius Hindu Bali dalam menegakan, menerapkan, dan juga mengapresiasi SKB tersebut didorong oleh komitmen dan landasan moral mereka sebagai manusia Bali karena terindikasi bahwa sampradaya-sampradaya non dresta Bali merupakan ancaman laten atas eksistensi sistem religiusitas masyarakat adat di wewidangan desa Pekraman yang ada di Bali. 

"Dalam hal ini sangat jelas peran Bendesa Adat sebagai eksekutor atau lembaga operasional SKB secara ad hoc dan organisasi-organisasi yang turut mendukung Bendesa adat dalam menerapkan SKB juga bukan merupakan sebuah Action Desavu, penerima kuasa melakukan tindakan melampaui batas kewenangannya" Pungkasnya 

Sementara itu Ketum GKHN Komang Priambada SE Menyambut Gembira Penutupan Ashram terbesar di Bali (RED/Imam Heru)

Posting Komentar

0 Komentar