Header Ads Widget

Hosting Unlimited Indonesia

Update

8/recent/ticker-posts

Menjelang Mahasabha XII ,Muncul Para Kandidat Pimpinan PHDI Pusat Yang Di Harapkan Bisa Menpersatukan Ummat





Denpasar, Intelmediabali.id- Berdasarkan hasil rapat panitia mahasabha XII bahwa telah diputuskan Mahasabha XII PHDI Pusat akan dilakukan mulai tanggal 28 Oktober sampai dengan 1 Nov 2021 secara Luring dan Daring, dimana pusat rapat luring offline akan dipusatkan di The Sultan Hotel Jakarta . Para peserta yang luring dalam Mahasabha XII PHDI Pusat adalah ketua PHDI provinsi, Dharma Adyaksa, Ketua Walaka, Ketua Umum PHDI, ketua panitia, beberapa ketua bidang dan pimpinan lainnya.

Ditengah tuntutan umat Hindu Dharma Indonesia yang sangat tinggi kepada para calon pimpinan pengurus PHDI Pusat yang akan datang yang telah disuarakan dua tahun terakhir khususnya oleh umat Hindu di Bali yang sangat menentang keberadaan organisasi transnasional sampradaya baik ISKCON, SAI BABA,dan organisasi transnasional sampradaya lainnya dalam tubuh PHDI Pusat, mulai bermunculan para kandidat pimpinan PHDI yang diharapkan bisa menampilkan kepengurusan PHDI Pusat yang lebih baik dan bersih dari organisasi transnasional.

Menurut Jro Bauddha Suena sebagai pengamat Hindu Nusantara bahwa saat ini telah muncul beberapa kandidat sebagai pilihan terbaik umat Hindu Dharma Indonesia dan dianggap layak memimpin majelis tertinggi agama Hindu di Indonesia yang mana para kandidat yang muncul tersebut adalah aspirasi dari bawah yang jelas jelas menolak keberadaan oknum pengikut organisasi transnasional sampradaya dalam tubuh PHDI dimana menurut pengamatan dan analisa Jro Bauddha Suena untuk di Majelis Kehormatan ( Sabha Kertha) yang dinominasikan sebagai Ketua ( Dang Kertha ) adalah Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari yang saat ini Dharma Upapati PHDI Provinsi Bali, Ida Pedanda Gede Rai Gunung Ketewel, dan Ida Pedanda Gede Oka Dharma dari Lombok, NTB .


Di Sabha Pandita PHDI Pusat yang dinominasikan sebagai Dharma Adyaksa pilihan umat Hindu seNusantara adalah Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda yang saat ini adalah Wakil Dharma Adyaksa PHDI Pusat dan beliau di kenal sebagai seorang sulinggih yang rajin turun ke bawah menemui umat diseluruh pelosok wilayah Nusantara, selanjutnya Ida Pedanda Gde Made Pidada dan Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga .

Untuk Sabha Walaka yang merupakan organ PHDI Pusat yang anggotanya berasal dari para tokoh ahli agama dan orang orang yang memiliki keahlian sesuai jabatan yang akan diemban yang bisa memberikan pertimbangan tentang mendefinisikan Hindu Dharma Indonesia atau Hindu Nusantara dengan benar  kepada Sabha Pandita yang dinominasikan oleh umat sebagai Ketua Sabha Walaka adalah Prof Dr.Drs I Made Surada MA yang merupakan seorang akademisi Hindu di salah satu universitas Hindu Negeri di Denpasar, Prof Dr Drs I Wayan Suka Yasa ; Guru Besar Pasca Sarjana UNHI dan  I Made Sutresna, S.Ag, MA.; Ketua STAH Dharma Nusantara Jakarta
Yang menarik setelah pernyataan tegas Ketua Pengurus Harian PHDI saat ini Wisnu Bawa Tenaya yang tidak mau mencalonkan diri dan dicalonkan lagi dalam perhelatan Mahasabha XII dalam wawancara disalah satu TV Swasta beberapa waktu lalu, saat ini beberapa kandidat untuk Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat bermunculan yang dianggap bisa mempersatukan kembali PHDI Pusat yang saat ini masih terbelah yaitu Prof Dr Drs Ida Bagus Yudha Triguna, Letjen TNI (Purn) I Wayan Midhio, Laksamana Muda TNI (Purn) I Nyoman Ari Atmaja, dan Drs. Erlangga Mantik serta tokoh Hindu lainnya yang tidak berafiliasi dengan sampradaya Sai Baba dan Hare Krishna (ISKCON).
Munculnya para kandidat tersebut agar bisa membawa PHDI Pusat menjadi  lebih baik untuk kepengurusan PHDI Pusat 2021 – 2026 yang bebas dari pengaruh organisasi transnasional,sehingga sebagai pemilik suara yang sah, dukungan suara PHDI Provinsi lain berikut dengan PHDI Kabupatennya mutlak sangat dibutuhkan untuk memilih salah satu dari para kaandidat tersebut agar apa yang dicita-citakan oleh umat Hindu Dharma Indonesia selama ini bisa diwujudkan .
Jro Bauddha Suena menyatakan sesuai aspirasi yang berkembang bahwa para tokoh umat Hindu Dharma tersebut diusung untuk mempersatukan kembali PHDI Pusat yang saat ini masih terbelah karena dianggap mereka bisa diterima oleh kedua belah pihak yang berseberangan saat ini dimana misi berat perjuangan utama para tokoh yang diusung diatas tersebut di dalam Mahasabha XII PHDI Pusat agar hasil KEPUTUSAN PESAMUHAN SABHA PANDITA PHDI PUSAT NOMOR : 01/KEP/SP PHDI PUSAT/VII/2021 TENTANG REKOMENDASI DAN PENCABUTAN SURAT PENGAYOMAN SAMPRADAYA TERTANGGAL 30 JULI 2021 DIJADIKAN BHISAMA OLEH SABHA PANDITA PHDI PUSAT UNTUK  PELARANGAN ORGANISASI TRANSNASIONAL SAMPRADAYA BAIK TEOLOGI, IDEOLOGI DAN ORGANISASINYA, sehingga produk disetiap Mahasabha dimasa yang akan datang benar-benar bersih dari hal-hal yang berkaitan dengan organisasi transnasional sampradaya ISKCON (Hare Krishna) & SAI BABA dan tujuan jangka panjang  ke depannya adalah siapapun yang

menjadi pengurus PHDI dari Pusat sampai dilevel terbawah atau PHDI Desa syaratnya tidak boleh sama sekali menjadi pengikut atau terkait langsung dan tidak langsung dengan organisasi transnasional  baik ISKCON, SAI BABA dan lainnya.
Ditambahkan oleh Jro Bauddha Suena bahwa fokus program kerja pengurus PHDI baru nantinya yang terpilih adalah agar memprioritaskan penguatan tattwa Hindu Dharma untuk internal umat Hindu Dharma Indonesia bekerjasama dengan majelis majelis adat , organisasi kemasyarakatan, yayasan yang bernafaskan Hindu Dharma Indonesia disemua daerah di Indonesia untuk bersama sama melakukan pembinaan agama, adat dan budaya di segala lapisan umat Hindu Dharma Indonesia karena selama ini pembinaan oleh PHDI Pusat kepada umat Hindu Dharma yang ada di pelosok Indonesia sangat minim khususnya daerah daerah yang kebangkitan umat Hindu Dharmanya secara kuantitas meningkat sehingga umat Hindu kedepannya tidak mudah terpengaruh oleh ajaran ajaran organisasi transnasional seperti ISKCON,  Sai Baba dan tidak mudah terkonversi agama lainnya serta kedepannya manusia Hindu Dharma Indonesa bisa menjadi manusia yang unggul tanpa menghilangkan identitas kepribadian Adat dan Budaya Hindu Nusantara.

 (JBS/20/10/2021)
Oleh :  Jro Bauddha Suena / Pengamat Hindu Nusantara

Posting Komentar

0 Komentar