Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ini Kata Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti: Kembali Kepada Konsepsional Hindu Dharma Indonesia

Rabu, 03 Agustus 2022 | Agustus 03, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-08-03T13:08:48Z



Denpasar, Intelmediabali.id. – Nusantara pernah mengalami masa kejayaan dengan hadirnya Kerajaan Majapahit sekitar abad ke 13. Kala itu  sebagian besar umatnya menganut paham ajaran Siwa Buddha yang kita kenal saat ini dengan Agama Hindu Dharma Indonesia yang juga merupakan agama tertua di Indonesia. Seperti kita ketahui Agama Hindu Dharma di Indonesia menganut paham teologi Panca Sradha dimana ajarannya mengambil spirit nilai – nilai suci Weda dan Susastra Weda yang diimplementasikan sesuai dengan kultur budaya masing masing suku.

Dan yang tak  kalah penting adalah bahwa  pemeluk tradisi Hindu Nusantara itu  sesuai dengan azas PHDI sebagai Majelisnya Para Sulinggih Hindu Dharma Indonesia saat ini yang ada didalam AD/ART 2021-2026 ,Bab III, pasal 6 ayat 1 yang berbunyi PHDI berazaskan Panca Sradha yang bersumber pada spirit dan nilai – nilai pustaka suci Weda serta Susastra Weda.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti,  Sulinggih Hindu dresta Bali dari Gria Bhuwana Dharma Shanti, Sesetan, Denpasar yang terkenal sangat bersahaja dalam sebuah wawancara pada  3 Agustus 2022, mengatakan keberadaan para sulinggih di Sabha Pandita baik dalam tubuh PHDI Pusat MS XII ataupun PHDI versi MLB merupakan simbol tertinggi Agama Hindu Dharma Indonesia sehingga ketika ada umat Hindu mengingatkan agar kembali kepada konsepsional Hindu Dharma Indonesia adalah sesuatu yang tidak salah dan wajar saja.  itu berarti ada hal yang harus dipahami kembali dan diluruskan bersama sehingga tujuan daripada Dharma Agama dan Dharma Negara bisa tercapai karena bagaimanapun PHDI sebagai Majelisnya Para Sulinggih bukanlah organisasi yang sempurna.

Umat Hindu Dharma Indonesia pasti akan bereaksi keras, ketika ada implementasi sebuah ajaran di Indonesia yang men-Tuhan-kan Manusia yang pastinya sudah tidak sesuai dengan asas PHDI itu sendiri.  “Hal ini akan merusak nilai dan norma dalam praktik keagamaan Hindu di Indonesia itu sendiri,” ingat Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti.

Ancaman ideologi organisasi transnasional sampradaya asing yang menggunakan konteks lokal dengan memanipulasi Pancasila terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa harus menjadi perhatian secara serius Umat Hindu Dharma Indonesia. Karna dalam konteks ini, ajaran Sampradaya yang men-Tuhan-kan manusia dan guru guru spiritual bertentangan dengan prinsip dasar konsepsional Hindu Dharma Indonesia, lanjut  Ida Rsi Bhujangga .

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti juga mengungkapkan keberadaan ajaran – ajaran sampradaya asing yang telah mendiskreditkan dan merendahkan praktik tata cara keagamaan Hindu Dharma Indonesia khususnya terhadap Hindu Bali sebagai praktik keagamaan Tamasik (sesat) yang tidak bersumber dari Weda adalah sesuatu yang keliru dan perlu diluruskan kembali. Demikian pula  organisasi kelompok sampradaya asing tersebut bisa dianggap telah melakukan perampasan budaya dan apropriasi budaya yang tidak mencerminkan kesopanan hingga menjadi bentuk penistaan Agama Hindu terutama ketika ditujukan terhadap praktik budaya keagamaan Hindu Nusantara yang sudah berakar ratusan tahun di Indonesia .

Selain mengungkapkan secara jelas konsepsional Hindu Dharma Indonesia, Ida Rsi Bhujangga juga ikut menanggapi laporan  PHDI Bali terhadap status medsos Jro Bauddha Suena ke polisi.

Menurut beliau bukanlah suatu tindakan yang bijaksana sebagai majelisnya para sulinggih. “Saya sudah membaca secara cermat dan teliti status di medsos tersebut dan menurut saya  tidak ada sama sekali kalimat yang menghina sulinggih secara pribadi, karena status medsos tersebut hanya bersifat mengingatkan. Itu bukanlah hal yang keliru,” tegas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti.

Ida Rsi Bhujangga melanjutkan perumpamaan dan analogi yang menggunakan kisah itihasa Mahabharata secara umum bukanlah hal yang salah, karena umat Hindu Dharma Indonesia hingga saat ini sangat percaya dengan kebenaran Itihasa Mahabharata. Perlu di pahami menganalogikan dan mengumpamakan suatu kejadian, dibandingkan dengan menyebut nama secara langsung adalah sesuatu yang sangat jauh berbeda artinya satu sama lain.

Ida Rsi Bhujangga yang juga merupakan seorang sulinggih akademisi yang sangat paham ilmu agama ini mengatakan dalam kitab Itihasa, khususnya dalam Wiracarita Mahabharata, Rsi Bhisma dan Rsi Drona adalah Maha Rsi yang sangat dimuliakan atau yang sangat di agungkan. Walaupun beliau berada di pihak Korawa namun beliau bukan memihak kejahatan. Beliau membela tempat junjungannya yaitu Raja Hastinapura. Karena junjungannya dalam hal ini bukanlah Duryodana tetapi raja yang masih berkuasa yaitu ayah Duryodana yang bernama Drestaratha. Jadi kedua beliau itu bukan seorang atau tokoh jahat, namun beliau tetap dianggap sebagai tokoh yang dimuliakan dan dihormati. Karena hormatnya pada guru dan kakeknya, maka sang Arjuna hampir tidak mau berperang dalam perang Bharata Yudha, sehingga menjadi ragu-ragu. Hal ini karena keduanya  adalah orang terhormat dan dihormati dan bukan orang jahat.

Lebih jauh menurut Ida Rsi Bhujangga kaitannya dengan  status medsos yang beredar tidak ada sama sekali kata – kata Jro Bauddha Suena yang mengatakan sulinggih Hindu Dresta Bali adalah Kurawa, karena analogi yang digunakanpun hanya secara umum keseluruhan itihasa Mahabharata, tidak ada secara khusus menyebut suatu kejadian.

Justru pihak yang melaporkan yang membuat penafsiran sendiri tanpa memahami keseluruhan itihasa Mahabrata, apalagi di akhir kalimatnya sangat jelas tulisan tersebut hanya bertujuan mengingatkan para sulinggih Hindu Dresta Bali/Nusantara agar kembali kepada azas AD/ART PHDI itu sendiri dan konsepsional Hindu Dharma Indonesia sebagai roh utama Hindu Nusantara. Yang berarti secara otomatis tidak ada tempat bagi organisasi sampradaya asing baik Sai Baba dan Hare Krishna untuk ada di Indonesia khususnya di Bali.(AD)

Tidak ada komentar:

×
Berita Terbaru Update